Masih minim tingkat wawasan, pengetahuan dan daya kritis para pendidik pelajaran sejarah tentang sejarah budaya Jawa Barat. Selain muatan pelajaran sejarah dalam kurikulum yang diterapkan saat ini atau kurikulum berbasis kompetensi, dirasakan masih minim, latarbelakang pendidik juga menjadi penyebab.
“Kondisi ini cukup memprihatinkan karena pelajaran sejarah merupakan sarana untuk memperkenalkan jati diri bangsa. Selain itu melalui pelajaran sejarah merupakan sarana menanamkan semangat nasionalisme bagi siswa sekolah,” ujar Kepala Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat, Wawan Ridwan, S.H., Kamis (21/8).
Menurut Wawan, dibandingkan dengan kurikulum beberapa tahun sebelumnya, kurikulum berbasis kompetensi saat ini mengalami kemunduran, terutama dalam hal bobot dan nilai yang dikurangi. Menurunya bobot pelajaran sejarah yang dikurangi, dikhawatirkan siswa-siswa ataupun generasi yang akan datang tidak lagi mengenal sejarah budaya bangsanya sendiri.
Wawan mengkritik metode pelajaran sejarah yang cenderung informatif dengan menekankan hafalan sehingga menjadikan siswa pasif. Materi sejarah yang diberikan juga terlalu luas karena mencakup berbagai dimensi sejarah, hal ini diperparah dengan latar belakang pengajar yang bukan dari bidangnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pengajar agar mengarahkan pelajaran sejarah dengan menekankan keterlibatan pengalaman siswa dengan melihat objek sejarah secara langsung.
“Materi perlu difokuskan dan siswa didorong lebih aktif lagi, semisal mengunjungi tempat bersejarah ataupun museum,” ujar Wawan.
Sumber: Pikiran-rakyat.com 22/08/2008
Komentar Terakhir