Arsip untuk Juni 4th, 2008

04
Jun
08

Indonesia, Lab Hidup Pendidikan Inklusif

Indonesia dapat dipromosikan menjadi laboratorium (Lab.) hidup pendidikan inklusif. Hal ini dilatarbelakangi oleh keragaman budaya, bahasa, agama, dan kondisi alam yang terfragmentasi secara geologis dan geografis.

“Indonesia adalah laboratorium terbesar dan paling menarik untuk (menghadapi) permasalahan dan tantangan pendidikan inklusif karena inilah negara kepulauan yang terbesar di dunia dengan jumlah pulau lebih dari 17.000 buah,” kata Mendiknas Bambang Sudibyo pada Konferensi Asia Pasifik Pendidikan Inklusif di Bali, pekan kemarin.

Sebagaimana dikutip dalam siaran pers Mediacenter Depdiknas, Mendiknas menjelaskan, pendidikan inklusif bukan hanya ditujukan untuk anak-anak cacat atau ketunaan, melainkan juga bagi anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS, anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, dan anak-anak korban bencana alam.

“Anak-anak ini yang harus dilayani dengan pendidikan layanan khusus (PLK),” tuturnya.

Mendiknas mengatakan, untuk menangani pendidikan inklusif di Indonesia, diperlukan strategi khusus. Dia menyebutkan empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah, yaitu peraturan perundang-undangan yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh pelayanan pendidikan, memasukkan aspek fleksibilitas ke dalam sistem pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Selain itu, menerapkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mengoptimalkan peranan guru

Sumber: Pikiran Rakyat Online 03/06/08

04
Jun
08

376.000 Sarjana Indonesia Menjadi Pengangguran

Saat ini, masalah utama dari sekitar 376.000 sarjana Indonesia adalah menjadi pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan. Padahal, mahasiswa dinilai memiliki keberanian dan jiwa kreatif untuk menjadi seorang wirausahawan.

Demikian dikatakan Budi G. Sadikin, Direktur Micro and Retail Banking, ketika hadir sebagai pembicara dalam “Workshop Wirausaha Muda Mandiri” kerja sama PCAD ITB dengan Bank Mandiri yang berlangsung di Aula Barat ITB, Jln. Ganeca (2/6).

“Dari 220 juta penduduk di Indonesia, hanya 450.000 di antaranya atau hanya 0,2 persen yang menjadi wirausahawan. Sementara di negara-negara maju, rata-rata sebesar dua persen dari total keseluruhan penduduk. Itulah yang menyebabkan Indonesia kebanjiran pengangguran dan kehabisan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Lebih lanjut Budi menegaskan, generasi muda diharapkan tidak lagi mencari kerja melainkan sudah saatnya untuk menciptakan pekerjaan dan membuka peluang usaha.

“Potensi wirausaha muda di Indonesia sangat besar. Maka dari itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak agar mahasiswa dapat dengan bebas berwirausaha. Di antaranya adalah dukungan pemerintah yang tepat sasaran, adanya program pemberdayaan mahasiswa dari pihak kampus, serta bantuan permodalan yang salah satunya dari perbankan,” katanya.

Dalam workshop itu, hadir pula artis Dian Sastrowardoyo sebagai duta wirausaha muda mandiri. Dian mengatakan, pekerjaannya di dunia entertainment sedikit mirip dengan wirausaha. “Workshop semacam ini merupakan strategi yang brilian untuk memerangi kemiskinan pada akhirnya karena dapat mencetak para wirausahawan muda, dan hal tersebut akan mempersempit pengangguran,” katanya.

Modal bagi mahasiswa

Sementara itu, Sukoriyanto Saputro dari Micro Business Group PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menyebutkan, di tahun 2008 ini, Bank Mandiri menyediakan program bantuan permodalan bagi 1.000 mahasiswa se-Indonesia yang mencoba mengembangkan minatnya menjadi wirausaha. Kriteria usaha mahasiswa yang akan mendapat bantuan modal di antaranya, usaha tersebut harus sudah berjalan, nyata, dan berprospek. Modal diberikan dalam bentuk pinjaman mulai Rp 5 juta dan bisa lebih besar lagi bergantung pada jenis usaha.

Salah seorang peserta workshop, Erdo Desyan (20) mengatakan, ia tertarik menjadi wirausahawan karena menjadikannya lebih mandiri dan bertanggung jawab. Ia memulai usahanya dengan berjualan merchandise di kalangan kampus. Usahanya kini telah berjalan sekitar satu setengah tahun dan ia berniat ingin menekuninya lebih lanjut. “Hanya, perhatian saya masih terbagi dengan kuliah. Oleh karena itu, saat ini wirausaha masih menjadi sampingan. Mungkin nanti setelah selesai kuliah bisa dilanjutkan lagi,” kata mahasiswa tingkat dua fakultas farmasi ini.

Hadirnya dua orang wirausaha muda pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2007, Elang Gumilang dan Saptoari Sugiharto menambah daya tarik tersendiri dalam workshop siang itu. Keduanya merupakan contoh generasi muda yang berhasil menjalankan usahanya sendiri.

Sumber: Pikiran Rakyat Online 03/06/08




Anda adalah pengunjung yang ke:

  • 7,766

Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30