Sistem pendidikan di Indonesia tidak memberi ruang bagi anak didik untuk berpikir kritis. Hal ini berimplikasi pada rendahnya kreativitas pelajar di Indonesia. Demikian diungkapkan dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Yasraf Amir Piliang, pada talkshow 100 Tahun Kebangkitan Nasional “Selamatkan Indonesia dari Kemiskinan” di Kampus ITB Jln. Ganeca, Bandung, Kamis (22/5).
Menurut Yasraf, iklim belajar-mengajar yang tidak mengarahkan anak didik pada pembelajaran yang kritis akan mematikan hasrat siswa untuk kreatif. “Perlu ada strategi untuk memperbaiki pendidikan dasar dan menengah yang belum membuat anak-anak Indonesia menjadi seorang yang kritis,” ungkapnya.
Hal serupa dikatakan staf ahli Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Asep Saefudin. Menurut dia, sistem pendidikan Indonesia cenderung mengarah pada feodalisme. Akibatnya, sistem pendidikan tersebut membuat anak didik kehilangan sarana untuk mengembangkan kreativitasnya. Sejatinya kreativitas dihasilkan dari pemikiran kritis anak didik. Sebagai gambaran, sistem belajar-mengajar berlangsung dengan masih adanya jarak antara pengajar dan anak didik.
Asep pun menawarkan strategi untuk membenahi sistem pengajaran pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen). Penyuplaian ilmu, kata dia, jangan hanya memfokuskan pada hard science, tetapi soft science seperti seni budaya yang memicu timbulnya inovasi.
Asep menjelaskan, apabila pemerintah melulu memfokuskan pada pendidikan gratis tanpa membenahi struktur sistem pendidikan, persoalan pendidikan tak akan pernah berakhir. Perguruan tinggi juga harus melibatkan diri dalam pembenahan pendidikan dengan memperluas kapasitasnya sebagai research university. (CA-172)***
Sumber: Pikiran Rakyat Bandung (24 Mei 2008)
0 Tanggapan ke “Siswa tidak Diajarkan Kritis”